"Kok banyak juga ya yang kerja di Tanjung Priok? Memangnya pada kerja dimana/apa sih?", kalimat ini pernah terlintas dipikiran saya waktu masih kuliah dulu. Saat itu saya melihat bis jurusan Tanjung Priok yang selalu penuh penumpang. Thursday, February 28, 2008
Tanjung Priok Tepi Laut
"Kok banyak juga ya yang kerja di Tanjung Priok? Memangnya pada kerja dimana/apa sih?", kalimat ini pernah terlintas dipikiran saya waktu masih kuliah dulu. Saat itu saya melihat bis jurusan Tanjung Priok yang selalu penuh penumpang. Tuesday, February 19, 2008
Belated birthday cake from my office
"Permisi.." kurir Holland Bakery datang bawa bungkusan geeeddeeee banget. Penasaran isinya apa, jreng..jreng..Kuenya gede gambar truk container warna biru
Lucu ya kuenya, saya aja sempet ga "tega" motongnya hehehehe...apalagi keponakan saya si Fauzan, dah ngaku2 aja kalo itu kue buat dia :D
Tuesday, February 12, 2008
Back to work & ASI Eksklusif
Dengan keyakinan bahwa “size doesn’t matter” alias ukuran PD tidak mempengaruhi kuantitas ASI, saya mulai
menabung stok ASI untuk Daiba. Alhamdulillah kuantitas ASI saya cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Sejak ulan September 2007 saya sudah mulai intens memerah dengan menggunakan breastpump, apalagi dotamah Daiba cukup minum dari 1 PD saja, jadi PD yag satu-nya lagi saya perah untuk dijadikan stok. Daiba pun sudah saya ajarkan menggunakan dot (last choice krn melihat Daiba yang minum ASI-nya kuat banget), dan Alhamdulillah lagi dia ga bingung puting.Berat rasanya meninggalkan Daiba dan harus kembali bekerja. Padahal dulu teman kantor saya pernah bilang kalo nanti pas cuti melahirkan abis dan balik kerja lagi, pasti akan berat untuk ninggalinnya. Yaaa…berhubung waktu itu belum jadi seorang ibu, saya cuma cengar-cengir aja. Tapi ternyata setelah Daiba lahir, beneran deh berat banget. Untungnya saya dapat cuti 4,5 bulan (cuti melahirkan 4 bulan plus cuti tahunan). Tadinya saya Cuma dapat 3 bulan cuti. Wah rasanya kayak putus cinta, saya nangis karena saya menyiapkan mental untuk cuti 4 bulan eh ternyata Cuma dapat 3 bulan. Tapi berkat bantuan berbagai pihak, akhirnya saya dapat 4 bulan cuti. Jadi masih bisa nyetok ASI lebih banyak.
14 Januari 2008, saya harus kembali bekerja. Kali ini mental saya sudah siap. Stok ASI sudah mencapai 50-an botol, Daiba ga nolak dot, pembantu udah ditraining cara menyiapkan ASI perah. Di kantor pun saya tetap harus memerah ASI. Jadwalnya sih 3 kali sehari, jam 10.00, jam 13.00, jam 16.00. Berapapun jumlahnya tetap harus disyukuri, karena mungkin memang kebutuhan Daiba Cuma segitu aja. Satu hal yang harus dicamkan dipikiran, jangan pernah merasa bahwa ASI kita kurang, jadi mindset-nya harus ASI kita cukup. Insya Allah kebutuhan ASIanak akan tercukupi kok. Satu hal yang membuat diri saya tenang ketika meninggalkan Daiba untuk ekerja, Daiba ga rewel, she’s a good baby girl. Sepulang kerja pas saya sampe rumah, keliatan banget kalo Daiba kangen ma saya (iiihh…pdhal saya tuh yang kangen hehehe). Makasih ya Daiba, Daiba udah jadi anak yang baik untuk Bubu Monday, February 4, 2008
Asi Eksklusif
Saya sangat mengakui hal ini karena saya sempat memiliki pengalaman dengan kehebatan ASI ini. Saat Daiba pulang dari rumah sakit, bilirubinnya mencapai 11, lalu dsa memberikan obat untuk menurunkan kadar bilirubin. Tapi dengan sok tau-nya saya tidak memberikan obat itu ke Daiba dengan alasan obatnya puyer jadi pasti mengandung beberapa jenis obat (usut punya usut obat itu ternyata Cuma berupa enzim aja). Lalu hari ke-7 Daiba(06 September 2007), saya bawa ke dokter untuk kontrol. Kali ini saya memilih dsa di Hermina bekasi aja dengan pertimbangan lebih dekat. Ternyata setelah kontrol, bilirubinnya Daiba mencapai 12,8! Saya pun panik, dsa menyarankan untuk terapi sinar biru, yang berarti Daiba harus dirawat inap. Berhubung saya awam dengan penyakit kuning bayi baru lahir ini, akhirnya saya menyetujui untuk dirawat inap. Duhh…rasanya sediiiih sekali melihat anak harus tidur sendiri dan terpisah dari saya, kayaknya baru kemarin saya menggendongnya dan tidur disamping saya, tetapi saat itu saya harus dipisahkan darinya huaaaaa…
Berhubung dari niat awal saya untuk memberikan asi eksklusif 6 bulan, saya sempat bersitegang dengan perawat di Hermina. Masa’ dia meragukan produksi asi saya. Memangnya para perawat itu ga pernah di raining mengenai ASI dan segala tetek bengeknya. Perawat itu bilang kalo pas malam hari mereka akan memberi susu formula pada Daiba karena dikhawatirkan stok asi saya abis. Selain itu perawat menyebalkan itu juga bilang kalo saya harus meminimalisir Daiba diangkat dari boks terapi sinar biru biar bilirubinnya cepet turun. Pdhal ketika mereka menyuapi ASI perah, bayi juga diangkat dari boks. Paling sebellagi pas perawat itu bilang kalo dengan diberikannya susu formula maka bayi akan lebih lama tidur dan bayi tidak akan sering diangkat dari boknya. (Huh sebel ga seh?? Rumah Sakit Ibu dan Anak kok tapi ga mendukung pemberian ASI eksklusif!!!) Saat itu saya bimbang dan terpikir untuk mengiyakan pemberian susu formula, tapi berkat dukungan penuh dari suami, akhirnya Daiba tetap mengkonsumsi ASI tanpa susu formula.
Bingung juga sih gimana ngasih ASI eksklusif ke Daiba di rumah sakit. Soalnya ASI yang diperah tidak sebanyak dengan yang dihisap langsung oleh Daiba. Solusi satu-satunya saya harus berada di dekat Daiba ato dengan kata lain saya harus nginap juga di rumah sakit. Melihat kondisi ruang tunggu yang teramat sangat tidak manusiawi, saya dan suami berinisiatif untuk “buka” kamar inap di rumah sakit layaknya di hotel. Awalnya ga boleh, karena hal ini merupakan “kasus” pertama yang baru dialami di rumah sakit itu dan Alhamdulillah saya bisa buka kamar dengan persyaratan bisa “diusir” sewaktu-waktu apabila ada pasien yang membutuhkan kamar. Setelah mendapatkan nomor kamar, saya langsung memberitahukan para perawat yang menyebalkan itu kalo saya buka kamar rawat inap disini, jadi ketika Daiba setiap saat menangis, saya langsung di telpon untuk datang menyusui.
Alhamdulillah, perjuangan saya untuk memberikan ASI eksklusif tanpa susu formula membuahkan hasil. Keesokan harinya, 07 September 2007, pas bilirubinnya dicek lagi, ternyata sudah turun menjadi 10!!! Inilah bukti kehebatan ASI. Daiba pun diperbolehkan pulang (setelah kejadian ini saya dan suami memutuskan untuk memakai dsa di rumah sakit Daiba dilahirkan). Para orang tua yang bayinya juga disinar pun bingung, kenapa Daiba boleh pulang pdhal baru kemarin masuk. Saya jelasin aja kalo Daiba ASI EKSKLUSIF tanpa susu formula. Ternyata setelah saya membaca literature, bayi kuning yang disebabkan oleh ASI ato istilahnya Breastfeeding Jaundice obat satu satunya yaaa dengan minum ASI sebanyak-banyaknya, dan bayi juga ga perlu di terapi sinar biru kalo bilirubinnya. ASI IS THE BEST FOOD n MEDICINE for BABY!!Salam ASI!!!





