Monday, February 4, 2008

Asi Eksklusif

ASI is the best food for baby…
Saya sangat mengakui hal ini karena saya sempat memiliki pengalaman dengan kehebatan ASI ini. Saat Daiba pulang dari rumah sakit, bilirubinnya mencapai 11, lalu dsa memberikan obat untuk menurunkan kadar bilirubin. Tapi dengan sok tau-nya saya tidak memberikan obat itu ke Daiba dengan alasan obatnya puyer jadi pasti mengandung beberapa jenis obat (usut punya usut obat itu ternyata Cuma berupa enzim aja). Lalu hari ke-7 Daiba(06 September 2007), saya bawa ke dokter untuk kontrol. Kali ini saya memilih dsa di Hermina bekasi aja dengan pertimbangan lebih dekat. Ternyata setelah kontrol, bilirubinnya Daiba mencapai 12,8! Saya pun panik, dsa menyarankan untuk terapi sinar biru, yang berarti Daiba harus dirawat inap. Berhubung saya awam dengan penyakit kuning bayi baru lahir ini, akhirnya saya menyetujui untuk dirawat inap. Duhh…rasanya sediiiih sekali melihat anak harus tidur sendiri dan terpisah dari saya, kayaknya baru kemarin saya menggendongnya dan tidur disamping saya, tetapi saat itu saya harus dipisahkan darinya huaaaaa…

Berhubung dari niat awal saya untuk memberikan asi eksklusif 6 bulan, saya sempat bersitegang dengan perawat di Hermina. Masa’ dia meragukan produksi asi saya. Memangnya para perawat itu ga pernah di raining mengenai ASI dan segala tetek bengeknya. Perawat itu bilang kalo pas malam hari mereka akan memberi susu formula pada Daiba karena dikhawatirkan stok asi saya abis. Selain itu perawat menyebalkan itu juga bilang kalo saya harus meminimalisir Daiba diangkat dari boks terapi sinar biru biar bilirubinnya cepet turun. Pdhal ketika mereka menyuapi ASI perah, bayi juga diangkat dari boks. Paling sebellagi pas perawat itu bilang kalo dengan diberikannya susu formula maka bayi akan lebih lama tidur dan bayi tidak akan sering diangkat dari boknya. (Huh sebel ga seh?? Rumah Sakit Ibu dan Anak kok tapi ga mendukung pemberian ASI eksklusif!!!) Saat itu saya bimbang dan terpikir untuk mengiyakan pemberian susu formula, tapi berkat dukungan penuh dari suami, akhirnya Daiba tetap mengkonsumsi ASI tanpa susu formula.

Bingung juga sih gimana ngasih ASI eksklusif ke Daiba di rumah sakit. Soalnya ASI yang diperah tidak sebanyak dengan yang dihisap langsung oleh Daiba. Solusi satu-satunya saya harus berada di dekat Daiba ato dengan kata lain saya harus nginap juga di rumah sakit. Melihat kondisi ruang tunggu yang teramat sangat tidak manusiawi, saya dan suami berinisiatif untuk “buka” kamar inap di rumah sakit layaknya di hotel. Awalnya ga boleh, karena hal ini merupakan “kasus” pertama yang baru dialami di rumah sakit itu dan Alhamdulillah saya bisa buka kamar dengan persyaratan bisa “diusir” sewaktu-waktu apabila ada pasien yang membutuhkan kamar. Setelah mendapatkan nomor kamar, saya langsung memberitahukan para perawat yang menyebalkan itu kalo saya buka kamar rawat inap disini, jadi ketika Daiba setiap saat menangis, saya langsung di telpon untuk datang menyusui.

Alhamdulillah, perjuangan saya untuk memberikan ASI eksklusif tanpa susu formula membuahkan hasil. Keesokan harinya, 07 September 2007, pas bilirubinnya dicek lagi, ternyata sudah turun menjadi 10!!! Inilah bukti kehebatan ASI. Daiba pun diperbolehkan pulang (setelah kejadian ini saya dan suami memutuskan untuk memakai dsa di rumah sakit Daiba dilahirkan). Para orang tua yang bayinya juga disinar pun bingung, kenapa Daiba boleh pulang pdhal baru kemarin masuk. Saya jelasin aja kalo Daiba ASI EKSKLUSIF tanpa susu formula. Ternyata setelah saya membaca literature, bayi kuning yang disebabkan oleh ASI ato istilahnya Breastfeeding Jaundice obat satu satunya yaaa dengan minum ASI sebanyak-banyaknya, dan bayi juga ga perlu di terapi sinar biru kalo bilirubinnya. ASI IS THE BEST FOOD n MEDICINE for BABY!!Salam ASI!!!

No comments: