Friday, October 10, 2008

I get my weight back

Setahun setelah melahirkan berat badan saya kembali seperti semula, seperti sebelum saya hamil 48 kg horeeee...senangnya Padahal saat kandungan 9 bulan berat saya melonjak jadi 68 kg loohh :p. Saya ga perlu usaha sama sekali untuk menurunkan berat badan, ga perlu diet, ga perlu pantang makan ini itu. Basically karena secara genetik saya memang kurus hihihih...

Akhirnya saya sadar kalo mempunyai keturunan kurus itu menyenangkan. Padahal sewaktu jaman sekolah dulu saya pengen banget gemuk, tepatnya sih agak gemuk. Tapi tetep aja loh susaaaaaahh banget gain more weight. Sampe menikah pun berat badan saya teteup susah untuk naik. Setelah 1 tahun menikah, baru deh saya naik 3 kg. Lalu, saya berpikir kalo kesempatan saya untuk nambah berat badan satu-satunya melalui cara HAMIL! dan benar aja loh..naek sampe 20 kg hihihi...untungnya berat badan langsung turun begitu selesai melahirkan, dari 59kg, 56 kg, 54kg, 52kg, trus 48kg deh...

13 mos old Daiba

Yippiee..Alhamdulillah akhirnya Daiba sudah bisa jalan tanpa pegangan pas diusia dia 13 bulan (30 sept 2008). Walopun masih bergaya robot, tapi dia seneng banget eksplorasi dengan jalan-jalan, sampe tangan saya ditepis krn berusaha megangin dia.

Benar kata kakak saya, kalo si ibu yang merawat dan mejaga anaknya sendiri, perkembangan sia anak akan lebih pesat dibandingkan kalo si anak diasuh oleh asisten rumah tangga. Saya merasakannya sendiri loh. Sejak asisten rumah tangga mudik lebaran dari tanggal 28 September-7 Oktober, I became full time mother and house wife. Daiba lengket banget ma saya, dia pasti nangis kalo saya menghilang sedikit dari pandangannya. Belajar kosa kata baru, mengenal benda, bahkan dia sekarang dah ngerti gimana gerakan tangan klo main Play station hihihi...Daiba...Daiba...

Wednesday, September 17, 2008

Kegemaran baru

Beberapa bulan belakangan, selain addicted dgn online shopping saya juga addicted dengan barang yang namanya "Tupperware". Pada awalnya saya ga tertarik dengan barang ini, karena selain mahal waktu utu saya msh mikir ga perlu2 amat untuk beli barang ini. Tapi entah kenapa, saya mulai tertarik karena melihat tupperware new collection berwarna orange. Berhubung meja makan saya warnanya orange juga, saya langsung tertarik deh, dengan alasan biar matching hehehe...

Nah, mulai dari pembelian 1 set tupperware orange itulah saya melihat-lihat tupperware jenis lain. Yang tadinya barang itu ga penting, sekarang di mata saya jadi penting banget loh :D. Beli tupperware khusus untuk kulkas biar barang-barang dikulkas bisa tersimpan rapi. beli ini beli itu, dan tarrraaaamm..inilah koleksi tupperware yang sudah hinggap dirumah saya kikikikik...


Tuesday, September 2, 2008

Happy 1st Birthday My Daiba

Selamat Ulang Tahun anakku...Setahun yang lalu, 30 Agustus 2007 pukul 02.25 Daiba hadir dan menyempurnakan diri saya sebagai seorang wanita menjadi seorang ibu. Bayi itu sekarang sudah bukan lagi bayi. Dia sudah menjadi seorang anak yang bisa protes, bisa ngeledekin ayah-bubunya, bisa tertawa ngakak, bisa jahil, bisa macem-macem layaknya bayi-bayi lain yang tumbuh kembangnya cepat.

Usia setahun ini, Daiba baru punya 2 gigi, rambutnya masih aja pendek (tapi bagian bawanya ikal gitu, turunan siapa ya?? pdhal saya dan suami berambut lurus loh), jalan merambatnya dah makin pinter, baru blajar berdiri tanpa pegangan, sudah bisa request sesuatu, bertepuk tangan, tangannya dah bisa nyuwun (baca: minta dgn sopan), sudah tau gimana buka baju kalo mo mandi. Senaaang banget ngeliat perkembangan anak yang pesat.

Sabtu,30 Agustus 2008 Ulang tahun Daiba dirayain secara sederhana aja, bagi-bagi goodie bag, balon dan nasi kuning ke tetangga dekat. Trus tiup kue ulang tahun dirumah bersama eyang, pakde, bude dan sepupunya. Sayangnya pas tiup lilin suami belum sampe rumah dari dinasnya ke Iran. Tiup lilin jam 18.30, suami sampe rumah jam 19.00.So he missed the party :D

Ulang tahun ini cuma buat seru-seruan ja. Abis saya seneng banget ngeliat keramean di rumah dengan banyak balon bertebaran dan topi-topi ulang tahun. Daiba pun seneng karena banyak teman. Tapi sayangnya daiba takut dengan topi ulang tahun. Mungkin karena dibagian pinggirnya itu ada rumbai-rumbai. Jadi dia takut banget tapi penasaran, buktinya sampe hari ini dia masih suka ngelirik ke topi itu. Saya harus bisa membuat Daiba berani untuk memegang topi itu, jangan sampe dia trauma pada sesuatu yang sebenernya ga perlu buat ditakutin.

Marhaban Yaa Ramadhan

Ga terasa, tiba juga saatnya Ramadhan. Alhamdulillah, tahun ini saya ikut berpuasa setelah tahun lalu saya absen berpuasa Ramadhan karena masih dalam masa nifas. Nah, Ramadhan kali ini saya mencoba untuk berpuasa. Awalnya saya khawatir karena saya masih menyusui takut kalo berpengaruh pada produksi air susu. Tapi ternyata Alhamdlillah, setelah kemarin menjalankan puasa, produksi air susu tetap bagus. Saya tetap mendapat hasil perahan yang lumayan banyak. Tapi memang perbedaannya, frekuensi memerah hanya 2 kali dan setelah itu PD terasa kosooong banget. Ga masalah, dengan 2 kali memerah itu saya sudah mendapat hasil yang lumayan. Jadi, sekarang ga ada keraguan lagi untuk berpuasa disaat menyusui, yang penting asupan makanan dan minuman pada saat sahur dan buka harus cukup untuk PD berproduksi lagi. Selamat Menjalankan Ibadah Puasa!

Friday, August 29, 2008

addicted to online shopping

Pfuih..yang ini lumayan nguras kocek. Abis kalo dah liat baju-baju lucu buat Daibasaya ga tahan buat ga nge-klik dan ngetik "booked yang ini". Bener kata orang-orang deh, klo punya dah punya anak, yang kita pikirin pertama kali pasti buat anak. Kalo diitung-itung sebulan saya bisa beberapa kali belanja online. Selain praktis dan murah, barangnya juga bagus-bagus. Udah gitu, pembayarannya pun tinggal transfer aja. Kebetulan saya bisa e-banking, jadi ya udah deh kebayang kan betapa mudahnya bertransaksi.

Temen-temen kantor banyak yang komentar ttg kebiasaan baru saya ini, ada yang bilang kalo bayi gedenya cepet lah, boros lah, jangan browsing lah, tapi teteup aja saya ga tahan buat browsing cari baju-baju lucu. Abis saya seneng aja dandanin anak. Mumpung si anak belum protes didandanin, ntar kalo udah gede kan dah ga bisa lagi :D

Jalan-jalan ke Dufan

Ini jalan-jalan ke Dufan yang pertama kalinya untuk Daiba. Kami pergi tanggal 16 Agustus lalu bersama dengan acara family day kantor saya. Berhubung saya dapat tiket lebih, jadilah kita rombongan jalan-jalan di dufan. Liat nih...Daiba naik komedi putar bersama saya. Ayo...mana yang lebih menikmati permainan, si ibu ato si anak hehehe...

Saya sengaja mengajak pergi ke dufan setelah dzuhur, soalnya biar ga panas dan Daiba ga kecapekan. Tapi tetep aja, alhasil Daiba juga tertidur. Nah, pas dia bobo kesempatan buat bubunya nyobain tornado, wuuiihhh enaaakkk...dibandingin gajah bledug, saya lebih milih naek tornado. Gajah bledug bikin pusing.

Ga banyak permainan yang diikutin, Daiba pun cuma naik komedi putar, gajah bledug ma ke istana boneka. Selebihnya dia seneng banget dibeliin balon dan ngeliat kembang api hehehe...Trus foto foto dan foto deh

Monday, August 25, 2008

Single parent for a week

Finally, my husband went to Esfahan yesterday afternoon. I tried for being ikhlas but I still felt it's difficult to do. My husband also said it's hard for him to leave me and Daiba for a long way trip. When he went to airport, our daughter was sleeping, he only whispered to Daiba's ear that he'll go for a week.

I almost cried. But I tell my self, I must strong and give my best smile and also support to him. He will have 2 times transit, one at Singapore and the next one is at Dubai. He said that it will take 10 hours to arrive at Tehran. Once he gets there, he will stay for a night and the next morning he will flight to Esfahan.

I'm still waiting for his news, where he is now. The plan will landing at Tehran at 10.00 am (Tehran time, the different with Jakarta is 2 hours). I'm still worry. My husband is very close to our daughter. He never leave us for a long time and very far from us. Perhaps this business trip effected to our daughter's psych. My daughter also had a fever last night (38.9 C), and Alhamdulillah she's getting better this morning. Maybe Daiba realize that her daddy will not on her side till end of this week. Like i mentioned before, her dad is very close to her. Once her daddy's coming from his work, she always play with him. Now, I have to spend more time and playing with her till her daddy's back from Esfahan.

We miss you already daddy...

Thursday, August 21, 2008

Is it safe now?


I'm preparing my self to let my husband go for business trip (International Telecommunication Union' symposium held by UN) to Iran on next Sunday. I'm still looking for current news about Iran. Is it already safe now? The symposium will be held on Esfahan, one of Iran's city and it's about 340 km south of Tehran.

He will go for 7 days and Insya Allah will arrive on Jakarta on August 30th our daughter 1st birthday). My husband said to me, "I'll still go there, just pray to Allah to protect me" hiks..I'm gonna miss you, and I know that I will worry all the time until you are coming back home dear..

Thursday, June 19, 2008

My other "soulmate"

Selasa, 17 Juni 2008 lalu bisa dibilang hari yang membuat saya resah, gelisah, dan ga tenang selama di kantor. Saya kehilangan sesuatu, sesuatu yang selama ini udah setia nemenin saya selama hampir 10 bulan terakhir. Setiap hari, apalagi hari kerja saya tidak bisa lepas darinya. Dia selalu mendampingi saya kemanapun saya pergi.

Nah, pada hari itulah dia absen menemani saya. Ini semua karena kesalahan saya juga. Perasaan tak tenang dan bingung menggelayuti pikiran saya. Pada hari itu saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak merasakan ketergantungan dengannya. Tetes demi tetes yang melalui perasaan gelisah tetap mengalir demi anak tercinta. Tapi tetap aja, saya tetap merasakan kehilangannya hiks..hiks..hiks..

Selama dikantor, perasaan saya sangat tidak tenang. Rasa sakit mulai menjalar di dada saya. "Pulang..pulang..pulang.." cuma kalimat ini yang ada di pikiran saya. Akhirnya sebelum jam 5 sore saya keluar kantor menuju rumah. Jam 17.20 saya sudah dirumah. Rasa sakir di dada semakin terasa. Sehabis mandi, dengan muka ceria saya bertemu dengan teman setia saya, "breastpump" is my other soulmate hehehe... Wuih..lega bener rasanya udah breastpumping lagi...tadi di kantor perjuangan sekali memerah pake tangan.

Thursday, June 5, 2008

Terkapar

Baru hari ini saya kembali lagi bekerja. Mulai hari Kamis-Jumat minggu lalu, saya terkapar di rumah. Hari senin, 2 Juni saya mencoba untuk bekerja lagi. Tapi apa daya, ternyata kondisi tubuh ga bisa dipaksain. Akhirnya suami dan anak saya menjemput saya hari itu (baca: Daiba ke kantor Bubu). Pulangnya suami memaksa saya untuk periksa ke dokter. Setelah tes darah, saya ternyata positif gejala tipes ringan dan saya tetap diharuskan untuk beristirahat. Sebelumnya sih saya juga menduga terkena gejala tipes, saya mengetahuinya dari info yang saya dapatkan dari medicastore.com:

Demam Tifoid
DEFINISI:
Demam Tifoid adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.

PENYEBAB
Bakteri Salmonella typhi.
Bakteri tifoid ditemukan di dalam tinja dan air kemih penderita.
Penyebaran bakteri ke dalam makanan atau minuman bisa terjadi akibat pencucian tangan yang kurang bersih setelah buang air besar maupun setelah berkemih.
Lalat bisa menyebarkan bakteri secara langsung dari tinja ke makanan.

Bakteri masuk ke dalam saluran pencernaan dan bisa masuk ke dalam peredaran darah. Hal ini akan diikuti oleh terjadinya peradangan pada usus halus dan usus besar.
Pada kasus yang berat, yang bisa berakibat fatal, jaringan yang terkena bisa mengalami perdarahan dan perforasi (perlubangan).

Sekitar 3% penderita yang terinfeksi oleh Salmonella typhi dan belum mendapatkan pengobatan, di dalam tinjanya akan ditemukan bakteri ini selama lebih dari 1 tahun.
Beberapa dari pembawa bakteri ini tidak menunjukkan gejala-gejala dari demam tifoid.

GEJALA
Biasanya gejala mulai timbul secara bertahap dalam wakatu 8-14 hari setelah terinfeksi.
Gejalanya bisa berupa demam, sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, sembelit, penurunan nafsu makan dan nyeri perut.
Kadang penderita merasakan nyeri ketika berkemih dan terjadi batuk serta perdarahan dari hidung.

Jika pengobatan tidak dimulai, maka suhu tubuh secara perlahan akan meningkat dalam waktu 2-3 hari, yaitu mencapai 39,4-40°Celsius selama 10-14 hari. Panas mulai turun secara bertahap pada akhir minggu ketiga dan kembali normal pada minggu keempat.
Demam seringkali disertai oleh denyut jantung yang lambat dan kelelahan yang luar biasa.

Pada kasus yang berat bisa terjadi delirium, stupor atau koma.

Pada sekitar 10% penderita timbul sekelompok bintik-bintik kecil berwarna merah muda di dada dan perut pada minggu kedua dan berlangsung selama 2-5 hari.

KOMPLIKASI
Sebagian besar penderita mengalami penyembuhan sempurna, tetapi bisa terjadi komplikasi, terutama pada penderita yang tidak diobati atau bila pengobatannya terlambat:
• Banyak penderita yang mengalami perdarahan usus; sekitar 2% mengalami perdarahan hebat.
Biasanya perdarahan terjadi pada minggu ketiga.
• Perforasi usus terjadi pada 1-2% penderita dan menyebabkan nyeri perut yang hebat karena isi usus menginfeksi ronga perut (peritonitis).
• Pneumonia bisa terjadi pada minggu kedua atau ketiga dan biasanya terjadi akibat infeksi pneumokokus (meskipun bakteri tifoid juga bisa menyebabkan pneumonia).
• Infeksi kandung kemih dan hati.
• Infeksi darah (bakteremia) kadang menyebabkan terjadinya infeksi tulang (osteomielitis), infeksi katup jantung (endokarditis), infeksi selaput otak (meningitis), infeksi ginjal (glomerulitis) atau infeksi saluran kemih-kelamin.

Pada sekitar 10% kasus yang tidak diobati, gejala-gejala infeksi awal kembali timbul dalam waktu 2 minggu setelah demam mereda.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan biakan darah, tinja, air kemih atau jaringan tubuh lainnya guna menemukan bakteri penyebabnya.

PENGOBATAN
Dengan antibiotik yang tepat, lebih dari 99% penderita dapat disembuhkan.
Antibiotik yang banyak digunakan adalah kloramfenikol.

Kadang makanan diberikan melalui infus sampai penderita dapat mencerna makanan.
Jika terjadi perforasi usus, diberikan antibiotik berspektrum luas (karena berbagai jenis bakteri akan masuk ke dalam rongga perut) dan mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki atau mengangkat bagian usus yang mengalami perforasi.


PENCEGAHAN
Vaksin tifus per-oral (ditelan) memberikan perlindungan sebesar 70%.
Vaksin ini hanya diberikan kepada orang-orang yang telah terpapar oleh bakteri Salmonella typhi dan orang-orang yang memiliki resiko tinggi (termasuk petugas laboratorium dan para pelancong).

Para pelancong sebaiknya menghindari makan sayuran mentah dan makanan lainnya yang disajikan atau disimpan di dalam suhu ruangan.
Sebaiknya mereka memilih makanan yang masih panas atau makanan yang dibekukan, minuman kaleng dan buah berkulit yang bisa dikupas

Daiba ke kantor Bubu

Senin, 2 Juni 2008 lalu anak saya daiba menjemput saya ke kantor bersama sang ayah. Kebetulan Ayahnya Daiba lagi ga ngantor dan kebetulan juga saya lagi ga enak badan. Seperti biasa, kalo ada seorang anak yang datang ke kantor orang tuanya, pasti dijadiin mainan dulu ma temen-temen orang tuanya itu. begitu juga Daiba. Untungnya Daiba tipe anak yang mau diajak ma siapa aja. Awalnya sih dia bengong2 dulu, tapi kemudian mulai deh ada senyum di bibir mungilnya itu.

Thursday, April 17, 2008

"Foto Box" di kantor

Oh I LOVE THIS OFFICE...semua fasilitas tersedia, bahkan "foto box" sekalipun huehehehe

Bebas Asap Rokok


Seandainya semua lingkungan dimanapun dan kapanpun bebas asap rokok, wuih enak banget yaa...tapi kayaknya mimpi ini memang cuma jadi perandaian aja deh. Sebagai "penikmat" fasilitas dan kendaraan umum, asap rokok teramat sangat mengganggu. Seperti pagi tadi pas saya menunggu bis. Banyak banget orang yang ngerokok, saya sampe beberapa kali berpindah tempat dengan menggeser kaki beberapa langkah cuma untuk menghindari asap rokok. Bingung deh, mereka kok ga nyadar ya kalo ada orang yang terganggu dengan asap rokok itu? (ya iya doong..masa ya iya sih??). Bodohnya lagi, saya pake nahan2 nafas pula, helloooo nitaaaa..you are killing your self hehehehe..

Beberapa waktu lalu, pemerintah sempat mengeluarkan peraturan mengenai pelarangan merokok di tempat umum. Tapi, yaaa tai sendiri pemerintah Indonesia kayak apa. Bukan bermaksud meng-underestimate pemerintah, tapi wong kenyataannya memang demikian. Peraturan hanya sekedar peraturan. Awalnya menggebu-gebu, kemudian hilang tanpa bekas.

Apa sih susahnya berhenti ngerokok? toh dulu awalnya juga ga ngerokok? Pasti saya akan dapatkan banyak jawaban dari para penikmat tembakau beracun itu (hm...this sentence is lil bit sadism, isn't it?). Salah satunya suami saya. Yup, my husband is a smoker too..tp untungnya bukan perokok berat (tuh masih ada ucapan "untung"). Sebeeeelll banget kalo dah ngeliat suami mulai menghisap rokok, susah banget minta dia untuk berhenti ngerokok. Alhasil, saya cuma bisa minta dia untuk ngerokok di teras rumah. Tapi tetep aja pas dia masuk rumah, bajunya itu jadi bau asap rokok, i really hate it and i always ask him to change his t-shirt. Kira-kira selain NIAT apalagi ya hal yang bisa bikin smoker being non-smoker? well..i wish i knew, i'll try it to my husband first.

Wednesday, April 2, 2008

Tinggal di negeri orang

Suami saya: "Nit, pengen deh tinggal di luar negeri. Kita pindah yuk, yaa..ke negara tetangga yang deket aja dulu"
Lain waktu lagi, sms dari suami saya: "kayaknya kita perlu tinggal di luar negeri paling ga 2 tahun deh biar bahasa inggris kita lancar deh"

Yups, berulang kali suami saya mengutarakan keinginannya untuk pindah, kerja dan bertempat tinggal di luar negeri. Saya sih berulang kali bilang ga mau, selain jauh dari keluarga besar, saya juga sudah "terlanjur" mencintai negeri sendiri hehehe..kan seenak-enaknya negara orang lebih enak negara sendiri.

Nah, suatu ketika saya membaca blog teman jauh yang domisilinya sekarang di Singapura. She used to live in Jakarta dan ini ngasih ide ke saya untuk meneruskan cerita ini ke suami.
Nita : "Yank, aku baca blog temenku yang sekarang tinggal di Singapura ngikut suaminya"
Suami : "Trus kenapa?"
Nita : "Dia cerita kalo selama ini temen-temennya pasti bilang tinggal di Singapura itu enak dengan segala macam fasilitas canggih, pusat perbelanjaan, dan keteraturannya. Tapi ternyata dia ga terlalu nikmatin tuh."
Suami : "Masa sih, emangnya kenapa?"
Nita : "Katanya di sana kalo tengah malem laper susah nyari jajanan ga kayak di Indo dan kalopun laper cuma angetin makanan n kalo ga masak ya apes aja deh :D, harga bahan pangan mahal trus "ga punya" tetangga juga."
Suami: "Iya juga sih, maka dari itu gajinya kan juga gede"
Nita : "Iya gaji gede, tapi pengeluaran juga gede. Trus dia bilang kalo Singapura itu jauh lebih enak cuma buat liburan ma blanja. Tapi kalo buat tempat tinggal, jauh lebih enak negara sendiri."
Suami: "Iya memang, aku juga ngerasain begitu kok. Luar negeri itu memang enak untuk berlibur aja. Seenak-enaknya negeri orang memang lebih enak negeri sendiri"

MERDEKA!!! :D

Thursday, March 6, 2008

Daiba lulus ASIX - MPASI pertama


Alhamdulillah..
Hari sabtu kemarin 1 Maret 2008 Daiba lulus ASI eksklusif (ASIX). Selama 6 bulan ini Daiba cuma mengkonsumsi ASI. Memang butuh perjuangan untuk dapat memberikan Daiba yang terbaik, kadang-kadang kuantitas ASI berkurang lah, males memerah lah, de es be, de es be. Seneeeeng banget saya ternyata bisa ngasih ASIX.

Di hari yang sama juga Daiba mulai makan untuk pertama kalinya. Makanan Pendamping ASI alias MPASI. Saya memberikan bubur tepung beras alami (bukan instant) sesuai dengan "ilmu" yang saya dapat dari milis asiforbaby (bener deh ga ada ruginya ikut milis ini). Berdasarkan informasi yang saya dapetin, tahapan MPASI bayi dimulai dari cerealia (tepung beras, havermut yang dicampur asi), sayur, dan buah. Alasannya? sebaiknya bayi dikasih yang rasanya hambar dulu, supaya nantinya dia ga keenakan ma makanan yang berasa dan akan jadi anak yang milih-milih makanan. Memang sih tiap anak itu berbeda, tapi saya pikir ga ada salahnya kalo tahapan ini saya terapin di Daiba.

Waaah Daiba antusias banget buka mulutnya (Bubu-nya juga antusias kok :D), karena mungkin selama ini kan dia seneng banget semua barang yang dipegangnya dimasukin ke dalam mulutnya. Nah..hiliran hari itu ada benda "asing" disodorin ke dalam mulutnya huehehehe...Trus dia makannya lahap banget, malah sempet ga sabaran sampe tangannya ikutan megang sendok yang akhirnya jarinya juga masuk ke mulut :D

Sejak dua hari yang lalu, daiba juga dah ganti menu. Dari tepung beras merah, ke tepung beras putih. Maunya sih menu sementara buat Daiba sebagai perkenalan kayak begini:
Hari 1-3: Bubur beras merah plus asi
Hari 4-6: Bubur beras putih plus asi
Hari 7-9: Bubur havermut plus asi (pagi) dan bubur beras merah (sore)
Hari 10-12: Bubur beras putih dan bubur havermut
Hari 13-15: Bubur havermut dan puree kentang
Hari 15-dst...bersambung

Wednesday, March 5, 2008

dicari, dibutuhkan, dibenci dan di"hati2"

Semalam saya dan suami menjemput mbak baru. Alhamdulillah mbak baru ini, "yayuk sinah" dibawa lagsung dari desanya di Gombong sama mama temannya suami saya. Kebetulan sang mama juga udah kenal baik dengan suami saya. Pas saya jemput si yayuk, dia sudah dipesan kalo kami adalah keluarga muda yang memiliki bayi usia 6 bulan, berhubung si yayuk sudah cukup berumur (40an) dia diminta juga buat sekalian ngemong kami hehehe...

Sosok yayuk sinah ini mirip dengan sosok mbak idaman saya, dia sudah berpengalaman dalam urusan rumah tangga termasuk momong bayi, bisa masak, 2 anaknya sudah menikah dan tinggal 1 orang lg yang msh smp dan suaminya sudah meninggal hampir 12 tahun yang lalu tapi dia tidak menikah lagi. Saya berharap dia akan betah di rumah saya dan saya selalu berdoa semoga yayuk sinah ini memang pilihan Allah untuk keluarga saya yang setia. Dengan sosoknya inilah, saya berusaha untuk bersikap baik dan ati2 untuk jaga perasaannya karena saya udah kapok ga ada mbak di rumah booooo....it's soooo miserable

Tuesday, March 4, 2008

dicari, dibutuhkan, dibenci

Udah hampir dua minggu ini saya "kehilangan" dua pembantu saya. Padahal hari gini kan udah susah nyari pembantu saya. Saya ngerasa kalo kita dah sangat ketergantungan dengan sosok yang namanya pembantu. Kayaknya kalo ga ada pembantu tuh bawaannya ribet banget. Pekerjaan rumah jadi keteteran semua, apalagi sekarang saya punya bayi, keberadaan pembantu teramat sangat dibutuhkan karena kebetulan salah satu pembantu membantu saya menjaga Daiba.

Yang bikin saya kesel banget tuh, dua ex pembantu saya itu awalnya tidak bisa apa-apa. Saya menyebut mereka dengan istilah piyik-piyik, karena usianya yang baru 15-16 tahun dan badannya kecil-kecil. Saya menerima mereka bekerja di rumah saya karena keadaan kepepet alias sudah ga ada stok lagi dan saya saat itu sudah harus bersiap-siap untuk kembali kerja. Dengan bantuan ibu saya, mereka dilatih hingga pada akhirnya mereka terampil

Tapi, pelatihan yang saya berikan berbuah ketidaksetiaan. Saya benci banget!! Ketauan banget sandiwara yang mereka lakukan, saya mencurigai yang jadi dalang semua ini adalah si “supplier” (bukan yayasan, tapi orang yang udah 2 tahun belakangan ini saya percaya jadi supplier). Awalnya tanggal 16 Maret, pembantu saya si A (adik dari supplier) minta ijin pulang kampung dengan alasan kakaknya sakit keras (batu kaleee keras), dan bilang kalo dia akan balik lagi. Tapi coba tebak??? Yup bener, A ga balik. Trus, pembantu si B (saudara supplier)dengan yakinnya bilang kalo dia tidak akan pulang dan akan tetap bekerja. Sampe saya tawarin dia mau kerja sendirian ato saya carikan teman baru, dia milih kerja sendirian, dan akhirnya saya naikkan gajinya.

Tapi apa yang terjadi kemudian??? Tanggal 23 Maret lalu si B dengan tangisan sinetronnya bilang mau pulang karena kakeknya meninggal. Helloooo…sinetron banget ga seeehhh…pas kakaknya si B nelpon dan ngomong ma saya trus ditanyaim kakeknya meninggal karena apa eh…malah gelagapan dan bilangnya ga tau, anyeh! Setelah saya paksa-paksa, akhirnya si B bilang kalo pada intinya adalah dia ga betah dan mau pulang. Huuuuhhh sebel, padahal awal-awal dia kerja di rumah saya selalu Tanya betah ato ga, kalo ga betah saya kan bisa cari yang lain berhubung masih baru lebaran jadi pasti banyak orang yang mau kerja. Kalo dah gini kan saya yang kerepotan.

Untungnya saya punya orang tua yang sangat perhatian dan membantu saya. Kejadian ini sempet bikin saya berpikir resign dari kerjaan. Tapi, orangtua saya melarang. Dua hari sepeninggalan pembantu, saya nangis ga karuan karena bingung. Mereka meyakinkan saya kalo untuk sementara waktu mereka bisa taking care of Daiba. Sedih sih, saya ngerasa kok saya udah berkeluarga tapi masih nyusahin orangtua.

Untuk sementara akhirnya saya mempekerjakan orang sekitar rumah untuk kerjaan ngepel, nyuci, nterika, Dan berdoa cepat dapat pengganti pembantu yang jujur, rajin, setia dan sayang pada Daiba. Alhamdulillah, hari ini saya dapat kabar kalo pesanan pembantu sudah ada. Suami saya memesannya melalui teman lamanya dan mendapatkannya dari Kebumen. Saya berdoa semoga pembantu yang baru ini benar-benar merupakan jawaban dari doa saya.

Thursday, February 28, 2008

Tanjung Priok Tepi Laut

"Kok banyak juga ya yang kerja di Tanjung Priok? Memangnya pada kerja dimana/apa sih?", kalimat ini pernah terlintas dipikiran saya waktu masih kuliah dulu. Saat itu saya melihat bis jurusan Tanjung Priok yang selalu penuh penumpang.

Nah, tadi pagi saya jadi keinget lagi dan malu juga ma pertanyaan sendiri. Ternyata sekarang saya kerja di Tanjung Priok juga, dan mudah-mudahan JICT akan jadi kantor terakhir saya, amiiinn.. Pada awalnya, pas jaman2 masih sesi interview dan psikotes dulu, saya juga ngerasa wah jauh juga ya Tanjung Priok dan kayaknya nyeremin juga. Tapi lama kelamaan biasa juga, dan ternyata juga memang banyak kok kantor-kantor yang oke di daerah ini. Paling ga, dari segi pendapatan sama dengan yang berkantor di daerah segitiga emas. Cuma bedanya Tanjung Priok image-nya terkenal dengan bronx dan perkantoran di segitiga emas itu terkesan lebih bergengsi. Ternyata ga juga deh....(tul ga ul, ndah? hehehehe)

Salah satu yang juga bikin saya betah disini, lingkungan kerjanya uenak tenaaannn...bahkan kakak saya yang pernah datang ke kantor sempet ngomong "gile lo, enak bener kerjaan lo" hehehe...selain itu walopun Tanjung Priok kesannya pesisir banget, tapi waktu tempuhnya dari Bekasi ternyata lebih cepat daripada ke daerah Sudirman dan sekitarnya. Pokoknya saya merasa beruntung sekali bisa kerja disini. Mengenai ancaman Tsunami? "Wallohualam bissyowab" alias "Semua yang bernyawa pasti akan mati".

Tuesday, February 19, 2008

Belated birthday cake from my office

Kaget, tiba2 pas lagi di rumah ibu, tanggal 10 Februari lalu, ada telpon dari Holland Bakery (kebetulan data saya dikantor belum diubah dengan alamat yang baru). Katanya mau kirim kue ulang tahun dari JICT. Kayaknya ulang tahun saya dah lewat sebulan yang lalu deh, tapi Alhamdulillah sih dapet kiriman kue. Ternyata pengiriman kue ulang tahun ini program baru dari HR&A JICT yang barudimulai tahun ini tapi berlaku back date.

"Permisi.." kurir Holland Bakery datang bawa bungkusan geeeddeeee banget. Penasaran isinya apa, jreng..jreng..Kuenya gede gambar truk container warna biru
Lucu ya kuenya, saya aja sempet ga "tega" motongnya hehehehe...apalagi keponakan saya si Fauzan, dah ngaku2 aja kalo itu kue buat dia :D

Tuesday, February 12, 2008

Back to work & ASI Eksklusif

Sudah tau kan “keajaiban” ASI? Saya semakin yakin memberikan ASI eksklusif 6 bulan untuk Daiba. Alhamdulillah selama hamil, saya sudah browsing cari tau segala hal tentang ASI, jadi dengan otodidak saya tau mengenai manajemen ASI.

Dengan keyakinan bahwa “size doesn’t matter” alias ukuran PD tidak mempengaruhi kuantitas ASI, saya mulai menabung stok ASI untuk Daiba. Alhamdulillah kuantitas ASI saya cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Sejak ulan September 2007 saya sudah mulai intens memerah dengan menggunakan breastpump, apalagi dotamah Daiba cukup minum dari 1 PD saja, jadi PD yag satu-nya lagi saya perah untuk dijadikan stok. Daiba pun sudah saya ajarkan menggunakan dot (last choice krn melihat Daiba yang minum ASI-nya kuat banget), dan Alhamdulillah lagi dia ga bingung puting.

Berat rasanya meninggalkan Daiba dan harus kembali bekerja. Padahal dulu teman kantor saya pernah bilang kalo nanti pas cuti melahirkan abis dan balik kerja lagi, pasti akan berat untuk ninggalinnya. Yaaa…berhubung waktu itu belum jadi seorang ibu, saya cuma cengar-cengir aja. Tapi ternyata setelah Daiba lahir, beneran deh berat banget. Untungnya saya dapat cuti 4,5 bulan (cuti melahirkan 4 bulan plus cuti tahunan). Tadinya saya Cuma dapat 3 bulan cuti. Wah rasanya kayak putus cinta, saya nangis karena saya menyiapkan mental untuk cuti 4 bulan eh ternyata Cuma dapat 3 bulan. Tapi berkat bantuan berbagai pihak, akhirnya saya dapat 4 bulan cuti. Jadi masih bisa nyetok ASI lebih banyak.

14 Januari 2008, saya harus kembali bekerja. Kali ini mental saya sudah siap. Stok ASI sudah mencapai 50-an botol, Daiba ga nolak dot, pembantu udah ditraining cara menyiapkan ASI perah. Di kantor pun saya tetap harus memerah ASI. Jadwalnya sih 3 kali sehari, jam 10.00, jam 13.00, jam 16.00. Berapapun jumlahnya tetap harus disyukuri, karena mungkin memang kebutuhan Daiba Cuma segitu aja. Satu hal yang harus dicamkan dipikiran, jangan pernah merasa bahwa ASI kita kurang, jadi mindset-nya harus ASI kita cukup. Insya Allah kebutuhan ASIanak akan tercukupi kok. Satu hal yang membuat diri saya tenang ketika meninggalkan Daiba untuk ekerja, Daiba ga rewel, she’s a good baby girl. Sepulang kerja pas saya sampe rumah, keliatan banget kalo Daiba kangen ma saya (iiihh…pdhal saya tuh yang kangen hehehe). Makasih ya Daiba, Daiba udah jadi anak yang baik untuk Bubu

Monday, February 4, 2008

Asi Eksklusif

ASI is the best food for baby…
Saya sangat mengakui hal ini karena saya sempat memiliki pengalaman dengan kehebatan ASI ini. Saat Daiba pulang dari rumah sakit, bilirubinnya mencapai 11, lalu dsa memberikan obat untuk menurunkan kadar bilirubin. Tapi dengan sok tau-nya saya tidak memberikan obat itu ke Daiba dengan alasan obatnya puyer jadi pasti mengandung beberapa jenis obat (usut punya usut obat itu ternyata Cuma berupa enzim aja). Lalu hari ke-7 Daiba(06 September 2007), saya bawa ke dokter untuk kontrol. Kali ini saya memilih dsa di Hermina bekasi aja dengan pertimbangan lebih dekat. Ternyata setelah kontrol, bilirubinnya Daiba mencapai 12,8! Saya pun panik, dsa menyarankan untuk terapi sinar biru, yang berarti Daiba harus dirawat inap. Berhubung saya awam dengan penyakit kuning bayi baru lahir ini, akhirnya saya menyetujui untuk dirawat inap. Duhh…rasanya sediiiih sekali melihat anak harus tidur sendiri dan terpisah dari saya, kayaknya baru kemarin saya menggendongnya dan tidur disamping saya, tetapi saat itu saya harus dipisahkan darinya huaaaaa…

Berhubung dari niat awal saya untuk memberikan asi eksklusif 6 bulan, saya sempat bersitegang dengan perawat di Hermina. Masa’ dia meragukan produksi asi saya. Memangnya para perawat itu ga pernah di raining mengenai ASI dan segala tetek bengeknya. Perawat itu bilang kalo pas malam hari mereka akan memberi susu formula pada Daiba karena dikhawatirkan stok asi saya abis. Selain itu perawat menyebalkan itu juga bilang kalo saya harus meminimalisir Daiba diangkat dari boks terapi sinar biru biar bilirubinnya cepet turun. Pdhal ketika mereka menyuapi ASI perah, bayi juga diangkat dari boks. Paling sebellagi pas perawat itu bilang kalo dengan diberikannya susu formula maka bayi akan lebih lama tidur dan bayi tidak akan sering diangkat dari boknya. (Huh sebel ga seh?? Rumah Sakit Ibu dan Anak kok tapi ga mendukung pemberian ASI eksklusif!!!) Saat itu saya bimbang dan terpikir untuk mengiyakan pemberian susu formula, tapi berkat dukungan penuh dari suami, akhirnya Daiba tetap mengkonsumsi ASI tanpa susu formula.

Bingung juga sih gimana ngasih ASI eksklusif ke Daiba di rumah sakit. Soalnya ASI yang diperah tidak sebanyak dengan yang dihisap langsung oleh Daiba. Solusi satu-satunya saya harus berada di dekat Daiba ato dengan kata lain saya harus nginap juga di rumah sakit. Melihat kondisi ruang tunggu yang teramat sangat tidak manusiawi, saya dan suami berinisiatif untuk “buka” kamar inap di rumah sakit layaknya di hotel. Awalnya ga boleh, karena hal ini merupakan “kasus” pertama yang baru dialami di rumah sakit itu dan Alhamdulillah saya bisa buka kamar dengan persyaratan bisa “diusir” sewaktu-waktu apabila ada pasien yang membutuhkan kamar. Setelah mendapatkan nomor kamar, saya langsung memberitahukan para perawat yang menyebalkan itu kalo saya buka kamar rawat inap disini, jadi ketika Daiba setiap saat menangis, saya langsung di telpon untuk datang menyusui.

Alhamdulillah, perjuangan saya untuk memberikan ASI eksklusif tanpa susu formula membuahkan hasil. Keesokan harinya, 07 September 2007, pas bilirubinnya dicek lagi, ternyata sudah turun menjadi 10!!! Inilah bukti kehebatan ASI. Daiba pun diperbolehkan pulang (setelah kejadian ini saya dan suami memutuskan untuk memakai dsa di rumah sakit Daiba dilahirkan). Para orang tua yang bayinya juga disinar pun bingung, kenapa Daiba boleh pulang pdhal baru kemarin masuk. Saya jelasin aja kalo Daiba ASI EKSKLUSIF tanpa susu formula. Ternyata setelah saya membaca literature, bayi kuning yang disebabkan oleh ASI ato istilahnya Breastfeeding Jaundice obat satu satunya yaaa dengan minum ASI sebanyak-banyaknya, dan bayi juga ga perlu di terapi sinar biru kalo bilirubinnya. ASI IS THE BEST FOOD n MEDICINE for BABY!!Salam ASI!!!

Wednesday, January 23, 2008

Kilas balik setelah cuti melahirkan


Stelah cuti melahirkan selama 4,5 bulan, saya baru bisa mengisi kembali blog ini. Jadi yaaa...postingannya seperti kilas balik gitu deh. Kilas balik ini saya mulai dengan proses melahirkan yang panjang dan 'menyenangkan'.

38 JAM
Setelah perjuangan menahan sakit selama 38 jam, akhirnya plug bintang kecil saya ternyata perepmuan! "Shahana Daiba Kamila" menambah terang kehidupan yang penuh warna ini. Bayi perempuan yang terlahir pada hari Kamis,30 Agustus 2007 pukul 02.25 dengan berat 2,9 kg dan panjang 49 cm mirip sekali dengan sang ayah.

Ternyata bgini toh rasaya melahirkan normal, rasanya nano-nano. Awalnya hari Selasa, 28 Agustus 2007 pukul 06.00 saya mengalami flek dan kontraksi ringan, untungnya saat itu suami belum berangkat kerja. erhuung ini anak pertama, suami langsung mengajak saya ke rumah sakit. Tapi, saya obeservasi dulu waktu kontraksi tersebut. Bahkan saya sempat ngurusin kitchen set yang akan diukur dulu. Baru kemudian setelah saya merasakan jarak kontraksi 10 menit sekali saya berangkat ke rumah sakit dan check in pukul 12.00.

Setibanya di rumah sakit, langsung dilakukan ctg, itu loh alat untuk mengukur kontraksi dan detak jantung bayi (saya juga baru tau kok hehehe) ya pokoknya bla..bla..bla deh sampe akhirnya rasa kontraksi yang sesungguhnya itu datang dan saya dipindahkan ke ruang bersalin. Pembukaan demi pembukaan saya jalani dengan rasa yang..waaahh ga ada rasanya deh. Proses pembukaan 1-5 lamaaaaa sekali, bayangin aja pembukaan 5 baru jam 19.30 hari Rabu 29 Agustus 2007 (thanks to my lovely husband, dia dengan setia nemenin saya setiap saat, bahkan macam2 omelan yang dah terlontar dari mulut saya dia terima dengan lapang dada :D ) Lamanya proses pembukaan ini sempet bikin saya stres. Ibu-ibu yang akan melahirkan yang datangnya belakangan dari saya ternyata sudah melahirkan duluan dengan mudahnya, ini nih yang bikin stres banget. Untungnya lagi dokter kandungan saya dr.Nugroho sabaaaaar sekali menunggu untuk persalinan normal, bahkan saya tidak diberikan induksi sama sekali. Ibaratnya kayak persalinan orang kampung deh. Bayangin aja, saya dah hampir putus asa dan minta disectio aja tp tetep ga boleh. Saya minta pengurang rasa sakit kayak epidural tetep juga ga dikasih. Saking sebelnya saya teriak aja minta morfin buat ngilangin rasa sakit, eh...perawatnya malah ketawa hu uh...

Pembukaan 5-8, rasa sakitnya makin menjadi. Selama ini saya kira sakitnya dibagian depan, ternyata sakitnya kontraksi itu diagian bokong dan melilit bgt, kalo proses persalinan saya itu direkam, pasti saya akan malu sendiri ngeliatnya, udah kyk cacing kepanasan pas rasa kontraksi itu datang. Tapi pas kontraksinya menghilang, rasanya ngantuuuk sekali. Lagi-lagi, suami saya masih setia berada disamping saya dan memberikan telapak tangannya untuk membantu saya menahan rasa sakit yang mendera.

Pukul 00.30 dr Nugroho kembali datang mengecek kondisi saya, sudah pembukaan 8, dokter memutuskan untuk memecahkan ketuban saya. Dan jeesssss...pecahlah ketuban yang selama ini melindungi bayi saya. Perawat sudah mulai menyiapkan perlengkapan bersalin dan proses persalinan itu ditemani juga oleh kakak ipar saya mbak mety, tante saya, dan suami saya, sedangkan ibu dan abang saya menunggu di ruang perawatan. Tepat pukul 02.00 saya mulai belajar untuk mengejan. Setelah beberapa kali mengejan dan sudah terlihat rambut si bayi, dokter meminta untuk disiapkan alat vacuum. Ternyata bayi merubah posisi kepalanya agak melintang dan menengadah. Tidak lama kemudian, Alhamdulillah pukul 02.25 lahirlah seorang bayi mungil yang sudah lama ditunggu. Saat itulah suami sempat membisikkan kalimat "makasih ya sayang" ke telinga saya.


MENIT-MENIT YANG MENEGANGKAN
Cerita menit-menit yang menegangkan saya dengar ketika saya sudah selesai proses pemulihan. Menurut cerita kakak ipar saya mbak mety, bayi saya sempat tidak bernafas! Astaghfirullah...apa jadinya kalo saat itu saya mendengar hal ini. Suami saya pun diminta untuk membaca surat al-fatihah. Dengan kuasa Allah SWT, lewat tangan Dr Nugroho, Allah masih memberikan kepercayaan kepada saya dan suami untuk menitipkan seorang anak perempuan. Bayangkan, saat menegangkan itu tidak ada dokter spesialis anak yang sedang piket.Semuanya diambil alih oleh dr Nugroho. Seorang senior seperti dr Nugroho pun ktnya sempat panik dengan keadaan ini, katanya beliau sempat berujar "kok ga nafas", dengan segala upaya tangisan Daiba terdengar kembali...

Setelah itu dia langsung dibersihkan. Saya hanya mendengar sedikit tangisannya kemudian berhenti. Waktu itu sih saya ga mikir macem2, saya cuma merasakan kelegaan yang teramat sangat dan rasa tidak sabar untuk menunggu bayi ke dalam pelukan saya. Sampai 10 menit saya menunggu, barulah dr Nugroho kembali ke ruangan bersalin dan 'membereskan' saya. Dia tidak berkata apa-apa mengenai bayi saya. Selang beberapa menit kemudian, perawat membawa Daiba untuk inisiasi menyusui dini (IMD), tak disangka dia langsung bisa mengisap payudara saya dengan baik, ternyata memang benar kalo 30 menit pertama di awal kehidupan bayi, si bayi akan mempunyai reflek menghisap yang baik.