Wednesday, January 23, 2008

Kilas balik setelah cuti melahirkan


Stelah cuti melahirkan selama 4,5 bulan, saya baru bisa mengisi kembali blog ini. Jadi yaaa...postingannya seperti kilas balik gitu deh. Kilas balik ini saya mulai dengan proses melahirkan yang panjang dan 'menyenangkan'.

38 JAM
Setelah perjuangan menahan sakit selama 38 jam, akhirnya plug bintang kecil saya ternyata perepmuan! "Shahana Daiba Kamila" menambah terang kehidupan yang penuh warna ini. Bayi perempuan yang terlahir pada hari Kamis,30 Agustus 2007 pukul 02.25 dengan berat 2,9 kg dan panjang 49 cm mirip sekali dengan sang ayah.

Ternyata bgini toh rasaya melahirkan normal, rasanya nano-nano. Awalnya hari Selasa, 28 Agustus 2007 pukul 06.00 saya mengalami flek dan kontraksi ringan, untungnya saat itu suami belum berangkat kerja. erhuung ini anak pertama, suami langsung mengajak saya ke rumah sakit. Tapi, saya obeservasi dulu waktu kontraksi tersebut. Bahkan saya sempat ngurusin kitchen set yang akan diukur dulu. Baru kemudian setelah saya merasakan jarak kontraksi 10 menit sekali saya berangkat ke rumah sakit dan check in pukul 12.00.

Setibanya di rumah sakit, langsung dilakukan ctg, itu loh alat untuk mengukur kontraksi dan detak jantung bayi (saya juga baru tau kok hehehe) ya pokoknya bla..bla..bla deh sampe akhirnya rasa kontraksi yang sesungguhnya itu datang dan saya dipindahkan ke ruang bersalin. Pembukaan demi pembukaan saya jalani dengan rasa yang..waaahh ga ada rasanya deh. Proses pembukaan 1-5 lamaaaaa sekali, bayangin aja pembukaan 5 baru jam 19.30 hari Rabu 29 Agustus 2007 (thanks to my lovely husband, dia dengan setia nemenin saya setiap saat, bahkan macam2 omelan yang dah terlontar dari mulut saya dia terima dengan lapang dada :D ) Lamanya proses pembukaan ini sempet bikin saya stres. Ibu-ibu yang akan melahirkan yang datangnya belakangan dari saya ternyata sudah melahirkan duluan dengan mudahnya, ini nih yang bikin stres banget. Untungnya lagi dokter kandungan saya dr.Nugroho sabaaaaar sekali menunggu untuk persalinan normal, bahkan saya tidak diberikan induksi sama sekali. Ibaratnya kayak persalinan orang kampung deh. Bayangin aja, saya dah hampir putus asa dan minta disectio aja tp tetep ga boleh. Saya minta pengurang rasa sakit kayak epidural tetep juga ga dikasih. Saking sebelnya saya teriak aja minta morfin buat ngilangin rasa sakit, eh...perawatnya malah ketawa hu uh...

Pembukaan 5-8, rasa sakitnya makin menjadi. Selama ini saya kira sakitnya dibagian depan, ternyata sakitnya kontraksi itu diagian bokong dan melilit bgt, kalo proses persalinan saya itu direkam, pasti saya akan malu sendiri ngeliatnya, udah kyk cacing kepanasan pas rasa kontraksi itu datang. Tapi pas kontraksinya menghilang, rasanya ngantuuuk sekali. Lagi-lagi, suami saya masih setia berada disamping saya dan memberikan telapak tangannya untuk membantu saya menahan rasa sakit yang mendera.

Pukul 00.30 dr Nugroho kembali datang mengecek kondisi saya, sudah pembukaan 8, dokter memutuskan untuk memecahkan ketuban saya. Dan jeesssss...pecahlah ketuban yang selama ini melindungi bayi saya. Perawat sudah mulai menyiapkan perlengkapan bersalin dan proses persalinan itu ditemani juga oleh kakak ipar saya mbak mety, tante saya, dan suami saya, sedangkan ibu dan abang saya menunggu di ruang perawatan. Tepat pukul 02.00 saya mulai belajar untuk mengejan. Setelah beberapa kali mengejan dan sudah terlihat rambut si bayi, dokter meminta untuk disiapkan alat vacuum. Ternyata bayi merubah posisi kepalanya agak melintang dan menengadah. Tidak lama kemudian, Alhamdulillah pukul 02.25 lahirlah seorang bayi mungil yang sudah lama ditunggu. Saat itulah suami sempat membisikkan kalimat "makasih ya sayang" ke telinga saya.


MENIT-MENIT YANG MENEGANGKAN
Cerita menit-menit yang menegangkan saya dengar ketika saya sudah selesai proses pemulihan. Menurut cerita kakak ipar saya mbak mety, bayi saya sempat tidak bernafas! Astaghfirullah...apa jadinya kalo saat itu saya mendengar hal ini. Suami saya pun diminta untuk membaca surat al-fatihah. Dengan kuasa Allah SWT, lewat tangan Dr Nugroho, Allah masih memberikan kepercayaan kepada saya dan suami untuk menitipkan seorang anak perempuan. Bayangkan, saat menegangkan itu tidak ada dokter spesialis anak yang sedang piket.Semuanya diambil alih oleh dr Nugroho. Seorang senior seperti dr Nugroho pun ktnya sempat panik dengan keadaan ini, katanya beliau sempat berujar "kok ga nafas", dengan segala upaya tangisan Daiba terdengar kembali...

Setelah itu dia langsung dibersihkan. Saya hanya mendengar sedikit tangisannya kemudian berhenti. Waktu itu sih saya ga mikir macem2, saya cuma merasakan kelegaan yang teramat sangat dan rasa tidak sabar untuk menunggu bayi ke dalam pelukan saya. Sampai 10 menit saya menunggu, barulah dr Nugroho kembali ke ruangan bersalin dan 'membereskan' saya. Dia tidak berkata apa-apa mengenai bayi saya. Selang beberapa menit kemudian, perawat membawa Daiba untuk inisiasi menyusui dini (IMD), tak disangka dia langsung bisa mengisap payudara saya dengan baik, ternyata memang benar kalo 30 menit pertama di awal kehidupan bayi, si bayi akan mempunyai reflek menghisap yang baik.



No comments: